Cara Memilih Platform Media Sosial Yang Tepat Untuk Mempromosikan Bisnis Kamu Cara Memilih Platform Media Sosial Yang Tepat Untuk Mempromosikan Bisnis Kamu - Fajrinfo

Sekurangnya ada tiga miliar orang menggunakan media sosial, dan sebagian dari pengguna media sosial menggunakannya untuk berinteraksi dengan bisnis. Hampir 90 persen pemasar melaporkan peningkatan pengaruh karena kampanye media sosial, sehingga tidak heran jika makin banyak perusahaan mencurahkan waktu dan uangnya untuk mempromosikan produknya pada platform ini.

Di kuartal pertama tahun 2019 hampir berakhir dan lanskap digital terus berkembang, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh pebisnis adalah menentukan platform mana yang paling cocok dan kegiatan media sosial mana yang layak untuk dikejar.

Mari kita cermati tren baru yang muncul di dua platform terbesar dan satu pendatang baru yang mencoba untuk mengambil hati para pengguna internet dengan layanan yang mereka tawarkan.

1. Facebook: Pentingnya Memiliki Laman Grup


Cara Memilih Platform Media Sosial Yang Tepat Untuk Mempromosikan Bisnis Kamu

Dalam hal total pengguna di seluruh dunia, Facebook masih menjadi yang nomor satu. Namun, untuk reputasi platform ini mengalami pukulan keras pada tahun 2018 setelah kontroversi Cambridge Analytica mencuat. Emily Copp dari Hootsuite mengamati, bahwa “Pengguna semakin tidak percaya pada perusahaan media sosial dan influencer selebritas. Kepercayaan telah kembali ke teman dekat, keluarga, dan kenalan di media sosial".

Baca juga: Cara Tepat Meletakkan Router WiFi Untuk Mempercepat Internet

Apakah itu berarti produk bisnis harus benar-benar meninggalkan Facebook? Tentu saja tidak. Facebook masih merupakan platform yang berharga untuk membangun komunitas dan melakukan dialog / diskusi yang bermakna. Salah satu cara untuk membuat lingkaran kepercayaan suatu brand / produk dan membuat pelanggan merasa seperti keluarga adalah dengan membentuk Grup Facebook.

Pada tahun 2018, Facebook membuat update ke Grup yang memungkinkan para pengguna halaman Bisnis untuk berpartisipasi di dalamnya. Meskipun halaman resmi untuk memposting informasi umum, tapi Grup Facebook dapat membahas minat pelanggan, menjelajahi konten kesukaan, dan juga melayani pelanggan lama. Hindari Grup Facebook untuk memasang produk; alih-alih, meminta umpan balik pelanggan, lalu kamu mundur dan membiarkan percakapan terjadi dengan sendirinya.

Grup Facebook dibentuk dalam tiga jenis: terbuka, tertutup, dan rahasia. Grup terbuka tersedia untuk semua pengguna sementara grup tertutup terlihat dalam hasil pencarian, tapi pengguna harus meminta izin dari administrator untuk bergabung. Grup rahasia tidak terlihat oleh orang luar; satu-satunya cara untuk bergabung adalah dengan undangan pengguna yang sudah menjadi anggota. Walaupun mungkin tampak paradoks, kelompok tertutup dan rahasia sering memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi.

Anggota saling kenal dan merasa lebih percaya diri membagikan pendapat dari mata publik. Admin Grup menjaga postingan dari spam dan seminimal mungkin.

2. Instagram: Bangkitnya Cerita


Instagram hanya memiliki separuh pengguna yang dibanggakan oleh Facebook, tapi apa yang kurang dalam ruang lingkupnya, lebih dari sekadar menambah volume keterlibatannya di dunia media sosial.

Platform berbasis gambar ini dengan cepat menjadi tambang emas untuk merek / produk yang menargetkan demografi kalangan pemuda. Namun, pelanggan Millennial memiliki minat yang sangat berbeda terhadap merek favorit mereka dari pada generasi jaman dulu. Mereka bukan pembaca pasif suatu konten merek; mereka ingin berkesempatan untuk bereaksi, berinteraksi, dan berkreasi bersama.

Di situlah Instagram Stories masuk. Awalnya dikembangkan oleh Snapchat, konsep di balik Stories adalah pembuatan konten sementara, tayangan slide 15 detik atau video yang hilang 24 jam setelah posting. Seperti tawaran waktu yang terbatas, Stories mengangkat ketakutan akan kehilangan, menciptakan kebutuhan mendesak untuk tetap terlibat.

Sifat singkat dari konten ini menarik bagi khalayak dengan rentang perhatian yang pendek, tapi sifat gamblang dari snapshot dan di belakang layar sekilas memikat para pengikut untuk terus mencari tahu lebih banyak.

Instagram Stories juga memberi pelanggan kesempatan untuk berpartisipasi. Libatkan audiens kamu dengan permintaan "isi yang kosong" atau "ketuk untuk lebih banyak", dan masukkan tombol pertanyaan atau polling untuk meminta umpan balik dari mereka.

3. TikTok: Aplikasi Baru Yang Mencoba Peruntungan


Salah satu batasan raksasa media sosial seperti Facebook dan Instagram adalah bahwa mereka dilarang atau disensor di beberapa negara. Agar merek / produk kamu bisa menembus seluruh pangsa pasar bahkan di berbagai negara, kamu akan membutuhkan alternatif yang lebih mudah untuk diakses yang masih memungkinkan untuk memanfaatkan kekuatan pemasaran video.

Sebelumnya dikenal sebagai Musical.ly, TikTok adalah platform video pendek, bergerak, dan vertikal. Platform ini memiliki 500 juta pengguna aktif di seluruh dunia, peringkat lebih tinggi dari Twitter, LinkedIn, Pinterest, dan juga Snapchat.

Baca juga: Cara Mengirim Email Rahasia Menggunakan Layanan Gmail

Aplikasi ini mendapatkan popularitas tinggi di Amerika Serikat pada November 2018 lalu. Pada Januari 2019, aplikasi tersebut dapat mengalahkan Instagram sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di perangkat Android.

TikTok adalah platform yang sempurna untuk mendorong konten yang dibuat pengguna dan bekerja dengan brand ambassador dan mikro-influencer. Di atas semua itu, isinya yang main-main dan tidak dipoles memberikan keaslian yang sangat membutuhkan.

Setelah membaca penjelasan yang telah Fajrinfo sampaikan diatas tentang platform media sosial, kira-kira platform apa yang paling difokuskan untuk bisnis kamu di akhir tahun 2019 ini? Beritahu kami pada kolom komentar di bawah.

Tulis komentar

Berkomentarlah yang relevan dengan bahasa yang baik dan santun, serta tidak menebar link aktif atau spam.
Komentar Anda dimoderasi. Jika sesuai dengan ketentuan, maka akan segera kami publikasikan.

Lebih baru Lebih lama